Han Garden

Gerai Tanaman Hias Adenium, Aglaonema dan Pachypodium oleh Handry Chuhairy

Han Garden Insight

Serba Serbi tentang Persilangan Aglaonema

Aglaonema yang beredaran saat ini merupakan hibrida hasil persilangan yang sudah beberapa tahap. Spesies utama yang pernah dicoba disilangkan meliputi antara lain:

A. brevispathum : asal Malaysia, Thailand, Burma, Laos dan Vietnam

A. commutatum : asal Indonesia (Sulawesi), Filipina

A. cochinchinense : asal Thailand, Kamboja, Burma dan Vietnam

A. costatum : asal Malaysia, Thailand, Burma, Laos dan Vietnam

A. crispum : asal Filipina

A. modestum : asal China, Laos, Thailand

A. nitidum : asal Indonesia (Sumatra, Kalimantan), Singapura, Malaysia, Thailand, Burma

A. pictum : asal Indonesia (Sumatra)

A. rotundum * : asal Indonesia (Sumatra utara, Aceh selatan)

A. stenophyllum : asal Filipina

Prosedur persilangan Aglaonema:

Struktur bunga aglaonema berupa bunga majemuk berbentuk tongkol yang tertutup seludang bunga, bunga betina terletak di bagian bawah tongkol dan bunga jantan terletak dibagian atas. Sekitar 2 atau 3 hari sebelum seludang terbuka, bunga betina telah siap diserbuki. Saat seludang terbuka penuh tercium aroma harum yang menandai akan keluarnya serbuk sari yang terjadi keesokan harinya. Biasanya saat serbuk sari keluar bunga betina sudah lewat masa suburnya sehingga pembuahan sendiri jarang terjadi, kecuali pada beberapa klon A. commutatum.

Emaskulasi atau pembuangan bunga jantan pada tetua betina tidak diperlukan. 1 sampai 3 hari sebelum seludang pembungaan terbuka penuh. Serbuk sari berbentuk Persilangan sebaiknya dilakukan pada pagi hari saat terbukanya seludang bunga atau tepung halus dapat dioleskan ke kepala putik bunga yang dijadikan tetua betina dengan menggunakan kuas halus yang sebelumnya telah disapukan dahulu ke lendir kepala putik untuk mempermudah pengambilan serbuk sari. Setelah selesai penyerbukan, label tahan air yang memuat keterangan tentang tetua betina dan jantan yang dipakai dan tanggal persilangan diikatkan ke tangkai tongkol bunga. Keterangan masaknya buah dapat ditambahkan kemudian ke catatan label jika persilangan berhasil. Tongkol bunga yang telah diserbuki ditutup dengan kantong platik es mambo untuk menjaga kelembaban.

Kulit buah yang berwarna merah menandakan buah telah masak. Biji tunggal yang telah dilepaskan dari kulit buah, sebelum disemai dipasir atau campuran pasir dan sekam bakar 1:1 diolesi dahulu dengan fungisida berbentuk tepung. Biasanya biji akan bertunas dalam waktu 1 sampai 4 bulan setelah tanam. Evaluasi hasil dapat dilakukan sejak daun pertama keluar sampai tanaman membentuk anakan, yang menyangkut keindahan, ketahanan terhadap hama dan penyakit, jumlah anakan dan lain – lain (Hambali, 2006).

Aglaonema rotundum, meskipun merupakan satu-satunya spesies yang mempunyai peran penting dalam pemunculan warna-warna merah meriah pada silangan-silangan Aglaonema komersial, kurang mendapat perhatian yang semestinya oleh pelbagai pihak yang dapat membantu mempertahankan kelestariannya di alam.

Tulisan ini disusun untuk mengulas beberapa hal penting mengenai tanaman ini dan diharapkan dapat dijadikan rujukan dalam diskusi-diskusi yang mendorong diadakannya tindakan-tindakan konkrit yang diperlukan untuk mencegah kepunahannya di alam.

Penamaan dan deskripsi

A.rotundum (rotundum = bulat) dikenal juga dengan nama lokal daun seroja dan juga tali sehati (Nurdi, komunikasi pribadi). Jenis ini dideskripsikan pertama kali oleh N. E. Brown di majalah Gardners’ Chronicle pada tahun 1893. Kecantikan tanaman ini telah mendorong para kolektor tanaman lebih dari seabad yang lalu untuk mendatangkan tanaman hidupnya ke negeri Inggris, sehingga upaya ini memungkinkan penamaan ilmiahnya (Nicolson, 1969).

Tempat tumbuh

Di habitat aslinya di Sumatera utara yang meliputi wilayah administrasi provinsi Sumatera Utara dan Aceh selatan tanaman ini tumbuh di dalam kelompok-kelompok kecil yang letaknya relatif berdekatan di bawah tajuk hutan primer yang kurang mendapat cahaya matahari pada lapisan humus atau serasah, yang merupakan media yang sesuai untuk pertumbuhannya. Sekitar awal tahun 1980an kawan penulis sdr Sukasdi mengungkapkan bahwa tanaman ini dijumpai tumbuh liar diantara semak belukar dikebun-kebun karet daerah Stabat. Dalam kunjungan penulis ke Bukit Lawang pada tahun 1996 dan 1997 penulis juga melihat tanaman ini tumbuh subur di kebun karet yang telah dibersihkan dari semak belukar dan juga di tebing-tebing sungai yang melintasi kebun karet tersebut. Tempat-tempat itu merupakan tempat yang relatif cukup dilimpahi sinar matahari. Semua fakta ini menunjukkan kisaran toleransi A. rotundum yang cukup tinggi terhadap pencahayaan.

Keaneka ragaman sifat

Dalam pengamatan sekitar 100 tanaman yang dikumpulkan penulis sendiri dari Pantai Buaya dan Bukit Lawang pada tahun 1996 dan 1997 serta kemudian yang penulis peroleh dari dr. Purbo Djojokusumo terlihat bahwa waktu keluar serbuk sari sangat berbeda-beda. Keluarnya serbuk sari ada yang telah dimulai senja hari sekitar pukul 18.00, sampai ada pula yang baru dimulai pagi hari sekitar pukul 06.00. Keragaman ditunjukkan pula oleh sifat-sifat yang relatif mudah diamati seperti misalnya perbedaan intensitas warna merah tulang daun dan warna merah permukaan bawah daun, bentuk daun yang membulat sampai bentuk bulat telur, ukuran daun (lebar daun 4 - 14 cm), jumlah tulang daun yang menghiasi permukaan atas daun (6 - 20), jumlah bakal buah per tongkol bunga (1 - 15), warna bakal buah hijau muda atau merah muda, ujung kelopak bunga (runcing atau membulat), jumlah serbuk sari yang dikeluarkan (sangat sedikit atau tidak ada sama sekali sampai sangat banyak), jumlah anakan yang dihasilkan (0 - 7), toleransi tanaman terhadap serangan penyakit busuk batang dan busuk daun (sangat peka sampai sangat toleran) dan juga tingkat kekekaran pertumbuhan.

Penyerbukan

Di Baranangsiang, Bogor, pada bunga Aglaonema yang telah siap diserbuki, yang ditandai dengan pembukaan seludang bunga dan kemudian seharí sebelum keluarnya serbuk sari diikuti dengan terciumnya bau harum yang menyerupai bau ester amylasetat, kadang-kadang nampak lalat mini Drosophilidae (panjang tubuh sekitar 1 mm) yang hinggap dan bermalam sekitar tongkol bunga dan baru meninggalkannya setelah serbuk sari keluar. Serangga ini diperkirakan merupakan serangga penyerbuk A. rotundum. Aktifitas terbangnya dari bunga yang telah keluar serbuknya ke bunga-bunga lain yang telah siap diserbuki dapat menyebabkan terjadinya penyerbukan dan pembentukan buah. Di kebun Pasir Angin, Bogor, yang dikelola dr. Purbo kehadiran serangga ini memungkinkan terjadinya pembuahan secara alami. Serangga-serangga yang mungkin jenisnya sama pernah penulis lihat pada satu tongkol bunga dalam salah satu kunjungannya ketempat tumbuh A. rotundum di Bukit Lawang.

Penyerbukan sendiri pada A. rotundum tidak mungkin terjadi karena pada saat serbuk sari keluar, kepala putik sudah tidak reseptif lagi.

Pemencaran biji

Buah A. rotundum yang telah masak berwarna jingga sampai merah cerah, buah yang masak berukuran sebesar kacang tanah (1 - 1.5 cm x 0.5 - 1 cm), biasanya berbiji 1, relatif besar dengan daging buah yang tipis. Daging buah masak berasa manis dan agak gatal, jumlah buah per tongkol bervariasi dari 1 - 15. Tipe buahnya menunjukkan tipe buah tanaman yang bijinya biasa dipencarkan oleh burung. Kontras warna buah masak yang merah cerah dengan warna dasar daun yang hijau coklat gelap merupakan daya tarik yang kuat bagi burung-burung pemencar biji A. rotundum yang biasa mencari makan di lapisan bawah hutan.

Persilangan dengan spesies lain di alam

Di habitat asli A. rotundum kadang-kadang dapat dijumpai silangan-silangan alam antara A.rotundum dengan A. pictum dan dengan A. simplex. Meskipun penampilannya cukup menarik, silangan-silangan alam ini kurang memiliki nilai komersial. Bunga-bunga jantan silangan-silangan alam ini biasanya steril.

Budidaya

1. Media tanam

Di habitat aslinya tanaman ini tumbuh pada lapisan humus dan serasah yang ideal untuk pertumbuhannya. Dalam pembudidayaan tanaman ini dapat ditanam pada media berbahan humus, arang sekam, sekam lapuk, pasir kasar dan tanah kebun yang digunakan sendiri-sendiri atau berupa campuran.

2. Penyiraman

Penyiraman dapat dilakukan 3 - 4 hari sekali, diselingi dengan penyiraman pupuk cair yang diberikan 2 - 3 minggu sekali.

3. Pencahayaan

Tanaman ini mampu ditanam di kolong rak tanaman yang masih mendapatkan cahaya samping. Pertumbuhan yang ideal diperkirakan dapat diperoleh dengan pencahayaan sekitar 30 - 40 %.

4. Perbanyakan

Tanaman ini mudah diperbanyak dengan setek batang atau biji seperti halnya jenis Aglaonema lainnya.

5. Pemberantasan hama dan penyakit

Tanaman ini biasa diserang oleh hama yang menyerang jenis- jenis Aglaonema yang lain. Ulat-ulat Sphingidae dewasa mampu melalap habis 1 - 2 lembar daun dalam semalam. Ulat-ulat Noctuidae mampu mengosongkan batang-batangnya dalam beberapa hari serangannya.

Pemberantasan hama-hama ini dan hama lainnya mudah dilakukan dengan penyemprotan dengan insektisida sistemik.

Penyakit busuk batang dan daun merupakan masalah paling sulit diatasi dalam pembudidayaan A. rotundum, bakteri Erwinia sebagai salah satu penyebabnya sangat sulit dieliminasi jika tanaman telah terserang. Upaya memperkecil serangan penyakit dapat dilakukan dengan melakukan penyiraman pada saat media telah cukup kering dan menghindari penyiraman berlebihan. Penyakit-penyakit yang muncul di tempat pembudidayaan merupakan penyebab utama kemusnahan koleksi-koleksi hidup A. rotundum di berbagai nurseri.

Upaya pemanfaatan dalam persilangan

Meskipun A. rotundum telah lama dikenal sebagai tanaman hias komersial, pada awal tahun 1960an, Nicolson (1969) mengungkapkan bahwa A. rotundum telah dijumpai dijual di pasar kota Bangkok, pemanfaatan dalam persilangan dengan spesies Aglaonema yang lain baru dimulai sekitar 1980an yang dipelopori oleh penyilang-penyilang di Indonesia dan Thailand yang sampai saat ini masih mendominasi pemanfaatannya. Di Indonesia usaha pemakaian A. rotundum dirintis secara hampir bersamaan oleh sdr. G. G. Hambali (Aglaonema Pride of Sumatra – A. commutatum tricolor x A. rotundum dan Donna Carmen – A. brevisphatum x A. rotundum) dan sdr. Sukasdi (Aglaonema Sanola – A. alumina x A. rotundum) dan kemudian diikuti sdr. Surahso (Aglaonema Ciput – A. pictum x A. rotundum). Di Thailand pada periode yang relatif agak lebih awal dua sekawan sdr. Sithiporn Donavanik dan sdr. Amorn (Aglaonema Balangtong atau Sithiporn) merupakan penyilang yang pertama memanfaatkan A. rotundum. Upaya pemanfaatan A. rotundum dan juga Aglaonema Cauang yang merupakan silangan A. simplex dan A. rotundum serta yang masih fertil sebagai induk betina ataupun jantan di Thailand meningkat tajam dengan masuknya Pride of Sumatra ke pasaran Thailand. Ini terjadi karena Aglaonema silangan asal Indonesia ini mampu memacu gairah para penyilang-penyilang baru di negeri itu untuk ikut pula menghasilkan tipe-tipe silangan baru yang memiliki sifat-sifat baik A. rotundum.

Kelangsungan hidup A. rotundum di alam

Pada waktu hutan-hutan di Sumatera masih terjaga keutuhannya dapat dikatakan A. rotundum sebagai spesies Aglaonema yang populasinya paling melimpah di alam. Tempat tumbuhnya di lantai hutan yang relatif lembab diatas humus dan diantara serasah memungkinkan tingginya persentase tumbuh biji-biji yang dipencarkan burung karena terjatuh diatas lapisan humus dan serasah yang merupakan tempat ideal untuk perkecambahan dan pertumbuhannya. Kondisi ini tidak dijumpai pada habitat-habitat jenis Aglaonema lain yang pernah dikunjungi penulis di daerah Asia Tenggara (Vietnam, Thailand, Malaysia dan Philipina). Keberadaannya yang begitu melimpah setidaknya pada beberapa dekade yang lalu mengibaratkan A. rotundum seperti garam di lautan. Peranan garam yang begitu penting di dapur untuk mewujudkan cita rasa pelbagai hidangan dijadikan seolah-olah tak berarti dengan keberadaannya secara berkelimpahan di lautan. Penulis berpendapat adalah tanggung jawab kita bersama agar keindahan dari A. rotundum yang tumbuh di alam masih dapat diakses oleh generasi penyilang di masa depan. Jangan pernah kita biarkan apresiasi kita akan keindahan tanaman ini merupakan awal dari kepunahannya. Dengan mengingat kelimpahan populasinya pada masa yang silam dan kelangkaanya yang terjadi sekarang, dapat kita bayangkan betapa besarnya erosi genetika yang telah menimpa spesies Aglaonema yang terindah ini. Kelangkaan A. rotundum di habitat aslinya juga merupakan ancaman bagi kehidupan burung-burung yang memanfaatkan buahnya sebagai makanan utama pada saat puncak pemasakan buah-buahnya yang biasanya terjadi pada musim penghujan.

Upaya pelestarian

Usaha-usaha untuk melestarikan A. rotundum di alam dapat dilakukan antara lain melalui pengetatan status cagar-cagar alam yang ada di pulau Sumatera dibarengi dengan kegiatan pengikut sertaan A. rotundum hasil seleksi dalam lomba-lomba Aglaonema seperti yang telah dirintis oleh sdr. Frans Kusdianto di Semarang.

Usaha untuk melakukan persilangan antar klon perlu secara serius dilakukan karena melalui cara inilah klon-klon A. rotundum yang lebih cantik dan tahan penyakit dapat dihasilkan sehingga nilai komersial klon-klon A. rotundum hasil budidaya dapat kita tingkatkan.

Usaha pengetatan status cagar alam Leuser yang merupakan habitat asli A. rotundum perlu benar-benar dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang. Kenyataan telah memperlihatkan bahwa longgarnya penerapan hukum di banyak cagar alam di Sumatera telah mengakibatkan kehancuran habitat asli bunga bangkai atau Amorphophallus titanum yang merupakan salah satu kerabat A. rotundum.

Hambali, G. G. 2006. Petunjuk praktis persilangan Aglaonema. Pelatihan persilangan dan budidaya Aglaonema. Perhimpunan Florikultura Indonesia bekerjasama dengan Forum Florikultura Indonesia di Flora Alam Sutra, Serpong, 11 Pebruari 2006.

3 Responses

  1. Adi

    14 June 2009 at 10:59 pm

    1

    P Han,
    makasih artikelnya… kebetulan saya sedang mencari artikel sejenis ini. mohon ijin mengcopy… diantara aglo saya, yang paling banyak ancur memang rotundum. dari 30 an tanaman, tinggal 3 pot, itu saja hanya 1 pot yang masih segar, yang dua sudah tidak ada akarnya…
    punya tips untuk media yang tepat pak?

  2. Handry Chuhairy

    14 June 2009 at 11:28 pm

    2

    Untuk masalah rotundum memang agak sulit adaptasi terutama pada media. Sering terjadi busuk batang meskipun dilakukan HPT dikarenakan media yang kurang baik meskipun sudah kita buat lebih porous, intinya setelah saya melakukan pemeliharaan selama 4 tahun berjalan ini, disamping porous tetapi yang perlu diperhatikan adalah komposisi media. Dulu saya mempunyai 100 rotundum tidak tersisa 1 pun, kemudian 250 rotundum saya kembali mengumpulkan hanya tersisa 75, dengan berbagai komposisi media dan sekarang agak lebih baik pertumbuhan dimana populasi yang ada mencapai 1.000 dan jangan putus asa dalam membudidayakan rotundum. Media yang saat ini saya pergunakan Pasir malang, Sekam Bakar (1/2 matang dilakukan fermentasi), Humus (fermentasi) dengan perbandingan 1 : 1 : 3 + Kapur dolomit (secukupnya) + Furadan 3G. Fermentasi dilakukan dengan memakai EM4 + Gula pasir selama 4 minggu (lebih lama lebih baik).

  3. Adi

    16 June 2009 at 10:50 pm

    3

    makasih pak atas sharring ilmunya. wow 1000 tanaman….. semoga tambah banyak pak…. sukses selalu..


Leave a reply

Recent Comments

  • elva : Selamat malam…saya tertarik dengan artikel mengenai tanaman penyerap polutan,...
  • bayu hanif : tolong bantu, gmna cara supaya aglonemae berbiji? tolong jelaskan, dnan gambar kalo...
  • Robert : Om Hans, Makin mantappp nehhh koleksinya… Sampe ngecesss… Salam
  • herryk : Untuk potong / cacah batang, pengalaman sy (sekedar share) lebih cepat bertunas, lebih...
  • Eddyson : Bagaimana caranya penyilangan Sansiveria antara jenis yang satu dengan jenis yang lain...